13. Di-t a m a t k a n

Dia bawa seluruh dari tubuh dengan terhuyung. Siapa yang tak luluh? Saat sebagian mata tertutup, bahunya tawarkan sandar untuk menutup mata melepas lelah. Siapa yang tak ingin menerima?

Lalu tangkup pada airmata jadi darah mengucur. Sayatan kecil mengubahnya jadi luka-luka bernanah. Di tubuhnya, dia simpan sebuah pilu. Dari perempuan yang dengan tega membunuhnya perlahan tapi melesat, tidak mengenai sasaran.

Iklan

12. Sekeranjang Buah, Kedatangan Tubuh

Pagi-pagi sekali tanah sudah basah, kupikir rindu mu jatuh di kebun ku semalam. Tapi aku salah, sebab Ibu memberitahu bahwa seorang perempuan telah menghuni ayunan di kebun, semalaman. Tangannya menengadah, menampung air untuk menakar seberapa banyak ruam di bagian paling peka.

Kata Ibu, tubuh perempuan itu penuh luka. Suara nya isak, lebih dari desau pada malam hari. Aku tersenyum menanggapi sambil berlari, mencari alamat rumah mu dan mengetuk pintu rumah, berupaya agar tali yang sempat terhubung tidak terputus dengan begitu sia-sia.

Kau membuka pintu, memberi sila pada ku di beranda sebelum kaki menjejak pada rumah mu yang kosong. Aku tersenyum penuh dan kau bawakan sekeranjang buah untukku.

“Ini, untukmu,” kata mu tanpa lengkung di bibir ranum, “sekeranjang buah yang kupetik saat kau pergi. Isinya kesakitan dan sebagian lainnya penuh luka.”

Aku menundukkan pandangan dalam-dalam. Bersembunyi seraya mencari kekuatan untuk membalas yang demikian itu. “Aku tidak memiliki apa-apa. Hanya saja, tolong, cukup bagiku untuk kau kembalikan sebagian dari aku yang hilang.”

Sejak saat itu, perempuan yang seringkali Ibu lihat bermain ayunan di kebun ku, hilang. Tidak lagi kelihatan. Perempuan itu saat ini memiliki pekerjaan baru, yaitu menghitung banyaknya buah. Sambil menunggu kedatangan sebagian tubuh nya, yang dirampas, dengan ketidaksengajaan. Oleh laki-laki di rumah seberang.

11. Satu Hari Itu

Pada satu hari itu aku ingin bergerak di ruang angkasa. Membuang segala prasangka yang memenuhi isi kepala. Memburai, dalam bentuk tangis tak utuh. Biarkan waktu melahap tubuhku secara perlahan, menggerogotinya sampai tulang-belulang ku habis.

Tidak ada yang ingin kucari, sekalipun bentuk ialah dekap tulus dari terkasih. Aku ingin melarikan diri dari Bumi. Mencari cara agar tidak ditemukan dalam jangka waktu ‘tak sebentar. Ingin kubuang ponsel ku jauh-jauh, agar mereka tak memberi kabar baik-buruk perihal Bumi. Kumatikan pula radar dan telepati. Biar aku sendiri saja dulu.

Belum sempat mata terpejam menyelesaikan keinginan, ia datang menjenguk keadaan. Membawa oleh-oleh selepas pergi. Aku takluk, meski takut. Yang kutakutkan hari itu datang; ia kembali dan aku masih belum siap melepasnya, lagi.

Dan ini hari, aku ingin pergi. Sejauh-jauhnya. Tidak ada mereka apalagi ia. Cukup, aku saja. Sendiri.

10. Kalau

kepada ini malam, aku pulang

membagi kisah— perihal dunia kedua,

kau jangan cari aku kawan, sebab

aku tlah memasung diri untuk terjebak di antara yang jahat itu.

saat kipas angin mati,

itu artinya aku bersiap— berkawan pada kecemasan

tapi kepala bersikeras;

menolak,

melawan.

aku tak mau mencegahmu untuk terus,

tapi belum tentu pula jika iya adalah isi daripada keselarasan.

di malam kian bising oleh isi kepala—

.. berkecamuk. tak lagi utuh.

aku ingin menyelami kedalaman bola mata mu —saja.

biar aku tenang.

bisa saja kudapatkan, kan? kalau

kau mau.

09. Bukan Sesiapa

kubilang kau musuh,

katamu— kita tak pernah terlibat masalah.

kubilang kau kawan,

kau menolak sambil bilang— sejak kapan demikian?

kemudian aku diam,

mencari-cari bagian mana yang salah.

tapi kau tak memberi celah,

bergumam, “kau bukan sesiapa.”

kutanya saja— “lalu?”

..”hanya bagian masa lalu mu. jangan buang aku, ya. sekalipun di tempat banyak cahaya.”

benar, kau bukan sesiapa; bagiku.

08. Kau di Planet Seberang

Isi kepala mu saat menemani waktu tiga puluh lima hari itu, apa saja? Boleh kutahu? Biar kubagi sebagian kisah perihal bagaimana usaha ku mengelak semua itu. Supaya kau paham, aku yang tanpa mu sekarang ini begitu senang mengetahui sebuah kabar bahwa kau telah bahagia.

Sekarang, mari kita bermain kata.

Kau tak perlu membalasnya, ini tugas begitu membuang waktu dan aku hanya sedang berusaha mengisi luangku untuk mengenangmu dengan cara paling sederhana. Sepakat? Kau harusnya jawab iya karena kita telah tersekat.

Di waktu yang menurutku semakin memperpanjang perasaan, kucoret-coret sebuah laman kosong. Berharap, dengan itu semua, isi kepala mu ikut carut-marut. Berantakan dan tidak peduli pada dering ponsel, panggilan dari kekasihmu. Aku ingin kau fokus pada tugasmu tanpa memikirkan perempuan itu. Cukup tugas, lalu setelahnya terkenanglah aku di dalam kepala mu.

Aku yang egois, sejenak saja, ingin kau di planet seberang tahu—aku pernah lebur dalam keadaan menyangkal, dan terkubur dengan kondisi tak normal. Memiliki mu di luar jangkauan, seharusnya aku tahu, itu mustahil dilakukan. Sudah sedari dulu kukatakan kepada diri sendiri, berbaiklah padamu tanpa kenapa. Tapi aku tak sadar diri, kau sebagai dirimu ialah di luar kuasa ku.

Ini malam, dengan kondisi paling sadar, aku menceritakan tubuh mu yang tidak akan lagi kutemukan di bagian manapun. Hanya ada di belakang, sebagai kenang. Dua puluh empat kau temui keberadaanku, itu sudah menjadi jaminan bahwa pinta ku terkabul; kau bahagia menjadi tubuh mu sendiri.

07. Penjelajah 360 Hari

Bolehkah kuucap selamat kepada tubuh dan seluruh isi kepala mu? Tidak ada apa-apa tersebab di sana hanyalah tumbuh sebuah marabahaya—bagi seorang perempuan yang terbujur kaku dengan tuna rungu nya. Tak mengharapkan apapun kecuali bahagia mu yang tak lupa diselipkan pada doa panjang.

Di sebuah halaman, kutulis kisah usang layak dikenang. Sengaja diabadikan, biar ketika isi kepala tak lagi sanggup menahan, maka isi buku menceritakan walau tidak keseluruhan. Supaya kau mengabadi bersama ratusan mimpi dibuat dengan kesadaran penuh.

Kapten penjelajah 360 hari,

ini hari adalah satu tahun penuh. Segala bisu perempuan itu tertuang pada buku yang akan menguning di masa tua, bersama tinta bolpoin standart, dan juga ribuan getar akan kisah.

Sebagai perempuan itu, pagi ini aku hanya perlu berziarah. Mengunjungi makam kita dengan menabur bunga yang layak untuk sebuah makam 360 hari. Tidak perlu ada tangis bersimbah—cukup tersenyum, dan kembali melapangkan dada.

Aku senang mengabadikan dirimu, baik di dalam kepala atau di atas kertas. Aku senang, pagi ini, tidak lagi ada airmata saat mengenangmu. Sebab datangku kali ini, ada di kondisi paling baik dari segala ku tanpa mu.

06. Ibu yang Patah

Pernah kulihat Ibu dalam keadaan paling patah. Ketika tubuh laki-laki nya mencari sebuah pulang selain dirinya—tanpa hati, dengan nyeri. Luka Ibu begitu terbuka—menganga, tapi tumbuhlah sebuah tabah yang mengakar dalam dada.

Untuk malam-malam panjang, suara laki-laki Ibu seringkali hilang. Tidak ada dekap yang dibaginya kepadaku, atau bertukar cerita setelah delapan jam bekerja sepertinya adalah hal membosankan, menurutnya.

Di satu malam yang semakin larut, Ibu sempat menumpahkan amarah pada laki-laki miliknya. Tangisnya buat sekujur kaku, dan aku, mati rasa.

Di waktu dewasa, tidak ada yang dapat kuperbuat selain belajar melupakan. Berharap bahwa hati akan setabah Ibu dalam menerima sebuah yang tidak diinginkan. Meski goresan tak lagi menjadikan diri utuh, semoga Ibu baik dan sehat selalu.

Terima kasih tlah menjadi yang kokoh saat ketidakpahaman merasuk pada usia ku yang tak sampai hitungan jari tangan. Selamat, Bu! Kau tlah memenangkan ego mu.

Untuk Ibu,

yang pernah patah.